Selasa, 13 November 2012

KOMPONEN-KOMPONEN KURIKULUM


BAB I
PENDAHULUAN
A.     Latar Belakang
Kurikulum merupakan suatu dokumen tertulis dari suatu rencana atau program pendidikan yang di jadikan sebagai acuan dalam pengajaran, kurikulum dapat mencakup lingkup yang sangat luas, yaitu sebagai program pengajaran pada suatu jenjang pendidikan. Dalam pembahasan ini akan membahas hal yang berkaiatan dengan kurikulum itu sendiri, yaitu membahas mengenai komponen-komponen kurikulum.
Komponen kurikulum merupakan suatu unsur yang perlu kita pahami agar dalam pelaksanaannya kita dapat berjalan sesuai dengan tujuan yang ingin di capai, apabila kita melaksanakan suatu program kurikulum tetapi kita tidak memahami konsepnya maka semua dapat diakatakan sia-sia, jadi untuk memahami komponen kurikulum itu sendiri dapat diakatakan penting bagi kita untuk memahami dan mempelajarinya.
B.     Rumusan Masal
Dari latar belakang tersebut dapat kita tarik suatu rumusan masalah yaitu:
1.      Apa yang dimaksud dengan komponen kurikulum ?
2.      Apa sajakah komponen kurikulum itu?

C.     Tujuan
Dalam makalah ini penulis bertujuan memenuhi tugas kelompok Pengembangan Kurikulum dan bertujuan menuntun pembaca dalam memahami Komponen Kurikulum.




BAB II
PEMBAHASAN
A.     Komponen-Komponen Kurikulum
Kurikulum dapat diumpamakan sebagai suatu organisme manusia atau binatang, yang memiliki susunan anatomi tertentu. Unsur atau komponen-komponen dari anatomi tubuh kurikulum yang utama adalah tujuan, isi atau materi, proses atau sisitem penyampaian dan media, serta evaluasi. Keempat komponen tersebut berkaitan erat satu sama lain[1].
a.    Komponen Tujuan
Tujuan memegang peranan penting, yang akan mengarahkan semua kegiatan pengajaran dan mewarnai komponen-komponen lainnya. Tujuan kurikulum di rumuskan berdasarka dua hal. Pertama, perkembangan tuntutan, kebutuhan dan kondisi masyarakat. Kedua, didasarkan oleh pemikiran-pemikiran dan terarah pada pencapaian nilai-nilai filosofis, terutama falsafah negara. Kita mengenal beberapa kategori tujuan pendidikan, yaitu tujuan umum dan khusus, jangka panjang, menengah, dan jangka pendek.
Tujuan merupakan suatu hal yang paling penting dalam proses pendidikan, yakni hal yang ingin dicapai secara keseluruhan, yang meliputi tujuan domain kognitif, domain afektif dan domain psikomotor. Tujuan pendidikan nasional pun menghendaki pencapaian ketiga domain yang ada secara integral dalam rangka memperoleh lulusan (output) pendidikan yang releven dengan tujuan pendidikan nasional.
Tujuan pendidikan yang berkaitan dengan domain-domain anak didik, di upayakan melalui proses pendidikan, jika di buat secra berurutan pendidikan itu sebagai berikut :


1.         Tujuan pendidikan nasional
Tujuan pendidikan nasional, merupakan tujuan pendidikan yang paling tinggi dalam hirarkis tujuan-tujuan yang ada, yang bersifat ideal dan umum yang dikaitkan dengan falsafah pancasila. Tujuan pendidikan Nasional menurut UU No.20 tahun 2003 pada dasarnya untuk membentuk anak didik menjadi manusia seutuhnya, yang mempunyai ilmu pengetahuan dan teknologi serta beriman dan bertaqwa, atau di kenal juga untuk membentuk manusia pancasila.
2.         Tujuan institusional
Tujuan institusional merupakan tindak lanjut dari tujuan pendidikan nasional. Sistem pendidikan indonesia memiliki jenjang yang melembaga pada suatu tingkatan, setiap lembaga memiliki suatu tujuan pendidikan yang di sebut dengan pendidikan institusional. Antara lain tujuan institusional SD/MI, SMP/MTS, SMU/MA, Universitas/Akademik/IAIN/STAIN, dan lain sebagainya.
3.         Tujuan kurikuler
Tujuan kurikuler merupakan tindak lanjut dari tujuan institusional, tujuan kurikuler yang biasanya dapat dilihat dari GBPP (Garis-Garis Besar Program Pengajaran) dari suatu bidang studi, dari GBPP tersebut terdapat suatu tujuan kurikuler yang perlu di capai oleh anak didik  
4.         Tujuan instruksional
Tujuan Instruksional merupakan tujuan dari tiga tujuan yang telah di kemukakan terdahulu. Tujuan ini bersifat operasional, yakni diharapkan dapat tercapai pada saat terjadinya proses pembelajaran yang bersifat langsung  dan terjadi setiap hari, tujuan instruksional ini dalam upaya mencapai tujuannya di tentukan oleh kondisi belajar mengajar yang ada.
b.    Komponen isi, Struktur Program atau Materi dan Bahan ajar
Komponen isi dan struktur program atau materi merupakan materi yang di programkan untuk mencapai tujuan pendidikan yang telah ditetapkan. Isi atau materi yang dimaksud biasanya berupa materi bidang-bidang studi, bidang-bidang studi tersebut biasanya telah dicantumkan atau dimuatkan dalam struktur program kurikulum suatu sekolah.
Tugas utama seorang guru adalah menciptakan lingkungan belajar, untuk mendorong siswa melakukan interaksi yang produktif dan memberikan pengalaman belajar yang dibutuhkan. Kegiatan dan lingkungan demikian dirancang dalam suatu rencana mengajar, yang mencakup komponen salah satunya sekuens bahan ajar.
a.       Sekuens bahan ajar
Tujuan belajar yang telah ditentukan diperlukan bahan ajar, bahan ajar tersusun atas topik-topik dan sub-subtopik dalam skuens tertentu yang membentuk suatu sekuens bahan ajar. Ada beberapa cara untuk menyususn sekuens bahan ajar, yaitu:
1.      Sekuens kronologis,
Untuk menyusun bahan ajar yang mengandung urutan waktu, dapat digunakan sekuens kronologis.
2.      Sekuens kausal
Masih berhubungan erat dengan sekuens kronologis adalah sekuens kausal. Menurut [2]Rowntree  “sekuens kausal cocok untuk menyusun bahan ajar dalam bidang mateorologi dan geomorfologi”.
3.      Sekuens struktural
Bagian-bagian bahan ajar suatu bidang studi telah mempunyai struktur tertentu. Penyusunan sekuens bahan ajar bidang studi tersebut perlu disesuaikan dengan strukturnya.
4.      Sekuens logis
Rowntree melihat perbedaan antara sekuens logis dengan psikologis. Menurut sekuens logis bahan ajar dimulai dari bagian menuju pada keseluruhan, dari yang sederhana kepada yang kompleks, tetapi menurut sekuens psikologis sebaliknya dari keseluruhan kepada bagian dari yang kompleks kepada yang sederhana.
5.      Sekuens spiral
Dikembangkan oleh Bruner (1960), bahan ajar dipusatkan pada topik atau pokok bahan tertentu.
6.      Rangkaian ke belakang
(bacward chaining), di kembangkan oleh Thomas Gilbert (1962)[3]. Dalam sekuens ini mengajar dimulai dengan langkah terakhir dan mundur ke belakang. Contohnya proses pemecahan masalah yang bersifat ilmiah.
7.      Sekuens berdasarkan hierarki belajar
Model ini di kembangkan oleh Gagne (1965), dengan prosedur sebagai berikut: tujuan-tujuan khusus utama pembelajaran dianalisis, kemudian dicari suatu hierarki urutan bahan ajar untuk mencapai tujuan-tujuan tersebut. Hierarki tersebut menggambarkan urutan prilaku apa yang mula-mula harus dikuasai siswa, berturut-turut sampai dengan perilaku terahir[4].

c.    Komponen Media, Sarana Prasarana
Media merupakan sarana dan perantara dalam pengajaran. Sarana dan prasarana atau media merupakan alat bantu untuk memudahkan dalam mengaplikasikan kurikilum agar lebih mudah di mengerti oleh anak didik dalam proses belajar mengajar[5].
Media mengajar merupakan segala macam bentuk perangsang dan alat yang disediakan guru untuk mendorong siswa belajar. Rowntree mengelompokkan media mengajar menjadi lima macam dan disebut modes, yaitu interaksi insani, realita, pictorial, simbol tertulis, dan rekaman suara.
a.    Interaksi insani, media ini merupakan komunikasi lansung antara dua orang atau lebih.
b.    Realita, realita merupakan bentuk perangsang nyata seperti orang-orang, binatang, benda-benda, peristiwa, dan sebagainya yang diamati siswa.
c.    Pictorial, media ini menunjukkan penyajian berbagai bentuk variasi gambar dan diagram nyata ataupun simbol, bergerak atau tidak, dibuat di atas kertas, film, kaset, disket dan media lainnya.
d.    Simbol tertulis, simbol tertulis merupakan media penyajian informasi yang paling umum, tetapi tetap efektif.
e.    Rekaman suara, berbagai bentuk informasi dapat disampaikan kepada anak dalam bentuk rekaman suara.

d.     komponen Strategi belajar mengajar
Dalam proses belajar mengajar seorang pendidik atau guru perlu memahami strategi. Strategi menunjuk pada suatu pendekatan (approach), metode (method) dan peralatan mengajar yang diperlukan dalam pengajaran, strategi mempunyai arti yang komprehensif yang mesti dipahami dan diupayakan untuk pengaplikasiannya oleh seorang pendidik terhadapa anak didiknya sejak dari mempersiapkan pengajaran sampai dengan proses evaluasi.
Ada beberapa strategi yang dapat di gunakan dalam mengajar, Rowntree (1974) membagi strategi mengajar yaitu:
a.    Reception atau Exposition Learning – Discovery Learning
Reception dan exposition sesungguhnya mempunyai makna yang sama, hanya berbeda dalam pelakunya.  Reception learning dilihat dari sisi siwa sedangkan exposition dilihat dari segi guru.
b.    Rote Learning – Meaningful Learning
Dalam rote learning bahan ajar disampaikan kepada siswa tanpa memperhatikan arti atau maknanya bagi siswa. Siswa menguasai bahan ajar dengan menghapalkannya.
c.    Group Learning – Individual learning
Pelaksanaan discovery learning menuntut aktivitas belajar yang bersifat individual atau dalam kelompok-kelompok kecil.

e.    Komponen proses belajar mengajar
Tujuan akhir dri proses belajar mengajar adalah diharapkan terjadinya perubahan dalam tingkah laku anak. Komponen ini juga mempunyai keterkaitan erat dengan suasana belajar di ruangan kelas maupun di luar kelas. Dalam menciptakan suasana pengajaran yang kondusif agar efektivitas tercipta dalam proses pengajaran, Subandijah[6] mengatakan bahwa guru perlu memusatkan pada kepribadiannya dalam mengajar, menerapkan metode mengajarnya, memusatkan pada proses dengan produknya, dan memusatkan pada kompetensi yang releven.
f.     Komponen Evaluasi atau penilain
Evaluasi ditunjukkan untuk menilai pencapain tujuan-tujuan yang telah ditentukan serta menilai proses pelaksanaan mengajar secara keseluruhan dan juga untuk melihat sejauh mana keberhasilan dalam pelaksanaan kurikulum maka diperlukan evaluasi. Mengingat komponen evaluasi berhubungan erat dengan komponen lainnya, maka cara penilaian atau evaluasi ini akan menentukan tujuan kurikulum, materi atau bahan, dan proses belajar mengajar.














BAB III
KESIMPULAN
Komponen kurikulum merupakan berbagai unsur yang memiliki keterkaitan satu dengan yang lain, suatu kurikulum harus memiliki kesesuaian atau relevansi natara komponen satu dengan yang lainnya, agar suatu kurikulum yang di laksanakan dapat berjalan dengan baik dan dapat mencapai tujuan yang diharapkan. Kesesuain ini meliputi dua hal:
1.      Kesesuain anatara kurikulum dengan tuntutan, kebutuhan, kondisi dan perkembangan masyarakat.
2.      Kesesuaian antara komponen satu dengan yang lainnya yang terdapt dalam komponen kurikulum itu sendiri.














DAFTAR PUSTAKA
Sukmadinata, Nana Syaodih. (1997) Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. Bandung: PT. Remaja Rosdakarya.
Chasanatin, Haiatin. (2012) Pengembangan Kurikulum. Metro: Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo.






[1]  Nana Syaodih Sukmadinata, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, PT. Remaja Rosdakarya, Bandung, 1997.  hal 102
[2] Rowntree, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek. hal 106
[3] Thomas Gilbert, Pengembangan Kurikulum Teori dan Praktek, hal 106
[4] Ibid, hal 107
[5]  Haiatin Chasanatin, Pengembangan Kurikulum, Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Jurai Siwo Metro, 2012. hal 9-10
[6] Ibid, hal 10

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar